INFOACEHUTARA.com — Warga Desa Geudumbak, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, menggelar tradisi peusijuek (syukuran) untuk meresmikan Musala Al-Bantani dan dua majelis mengaji anak-anak, pascabencana banjir bandang yang memporak-porandakan infrastruktur setempat delapan bulan lalu.
Pembangunan sarana ibadah tersebut terwujud berkat dukungan dan kerja sama Pemerintah Provinsi Banten melalui BPBD Provinsi Banten, masyarakat Banten, serta sejumlah komunitas, seperti Apindo Banten, Pondok Pesantren (Ponpes) Sabilurrahman Cibajo, dan Badan Wakaf Al-Qur’an (BWA).
Kehadiran fasilitas ini menjadi jawaban atas kebutuhan mendesak warga terdampak banjir bandang setinggi hampir enam meter yang merusak permukiman 485 kepala keluarga atau 1.685 jiwa di desa tersebut.
Tokoh agama sekaligus pimpinan Ponpes Darul Aman, Walid Abi H. Hamidi, menyampaikan apresiasi mendalam kepada masyarakat Banten dalam tausiah acara peusijuek tersebut. Ia menegaskan bahwa Musala Al-Bantani memegang peran penting bagi pemulihan psikologis dan spiritual warga.
“Bukan hanya sebagai tempat ibadah, lebih dari itu, di tempat ini juga akan terpanjat doa-doa ikhlas dari warga kami untuk saudara-saudara kami di Banten sana yang sudah dengan sabar dan tulus mewujudkan impian warga untuk memiliki musala dan majelis mengaji—yang juga diinisiasi oleh Pondok Pesantren Sabilurrahman. Semoga Banten tetap aman, dijauhkan dari bencana, dan selalu diberikan keberkahan,” ujarnya penuh semangat saat acara peusijuek, Minggu (27/7/2026).
Perwakilan aparat desa, Saiful, turut mengajak warga untuk menjaga dan merawat amanah sarana ibadah tersebut. Ia mencatat para dermawan dari Banten telah menghadirkan satu musala dan dua lokasi majelis mengaji di Desa Geudumbak. Saiful mengimbau warga agar memakmurkan musala dengan kegiatan dakwah dan menyertakan doa bagi para muhsinin.
Panitia lokal yang terdiri atas mahasiswa Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) Kelompok 11 UIN Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe turut menyukseskan acara peusijuek tersebut. Selain mengurus kelancaran acara, para mahasiswa menjalankan kegiatan pendidikan dan dakwah bagi anak-anak penyintas bencana di lokasi musala.
Proses pembangunan Musala Al-Bantani di tengah kawasan hunian sementara (huntara) sempat menghadapi berbagai kendala berat. Panitia dan warga harus melewati cuaca yang tidak menentu, kenaikan harga bahan bangunan pascabencana, medan distribusi material yang sangat berat, hingga kelangkaan semen. Namun, kekompakan warga dan dukungan para donatur berhasil mendirikan bangunan tersebut secara kokoh.
Selain menjadi tempat ibadah, musala ini terbukti aman menjadi tempat mengungsi warga saat terjadi bencana angin puting beliung beberapa bulan lalu.
Tokoh masyarakat setempat, Baraju, mengungkapkan bahwa warga Dusun Pante Seupeng sebenarnya telah merencanakan pembangunan musala di atas tanah wakaf sejak sebelum bencana terjadi. Kendati demikian, rencana tersebut sempat tertunda akibat keterbatasan dana warga hingga akhirnya bantuan dari Banten merealisasikan impian mereka pascabencana.
Penamaan “Al-Bantani” menampakkan hubungan sejarah dan ikatan solidaritas yang kuat antara Banten dan Aceh. Selain dipicu oleh aksi saling bantu saat bencana tsunami Selat Sunda dan banjir Aceh, kedua wilayah telah menjalin aliansi politik, perniagaan, pertukaran budaya, serta solidaritas Islam sejak abad ke-16 untuk menghadapi kekuatan asing, seperti Portugis dan VOC. Pemberian nama ini menghangatkan kembali ingatan sejarah sekaligus mempererat tali silaturahmi kedua daerah. []




















