INFOACEH UTARA.com — Grup musik etnik asal Lhokseumawe, Bink-Vho, sukses memukau penonton pada perayaan Milad ke-800 Kerajaan Islam Samudera Pasai di Aceh Utara. Penampilan mereka bukan sekadar unjuk kebolehan musikal, melainkan sebuah gerakan nyata untuk menepis stigma “kampungan” yang kerap melekat pada seni tradisi di mata generasi muda.
Vokalis utama Bink-Vho, Zulfadli Kawom, menegaskan bahwa kehadiran mereka di atas panggung merupakan panggilan jiwa untuk merawat warisan leluhur. Ia menyayangkan sikap sebagian generasi muda yang mulai menjauhi, bahkan merasa malu, terhadap kesenian daerah mereka sendiri.
“Kami tak sekedar memberi hiburan dan tidak haus panggung, tapi ada kepentingan, edukasi lirik musik tradisi Aceh kepada generasi muda yang mulai meninggalkan dan seolah malu, kampungan, main rapai, geundrang, seurunee kalee, padahal di luar negeri style musik seperti ini sangat dihargai,” tegas Zulfadli.
Untuk menyiasati fenomena tersebut, Bink-Vho mengambil langkah inovatif dengan memadukan alat musik tradisional, seperti rapa’i, seurune kalee, dan geundrang, bersama instrumen modern, seperti gitar, bas, serta perkusi kontemporer.
Mereka mengusung gaya musik etnik kontemporer berbalut world music dan folk etnik. Melalui aransemen yang eksperimental, kelompok anak muda ini mengemas lirik bertema budaya, sosial, dan kehidupan masyarakat pesisir menjadi karya modern tanpa meninggalkan akar tradisi.
Lebih lanjut, Zulfadli menekankan bahwa grup musiknya memikul tanggung jawab yang jauh lebih besar daripada sekadar mengejar popularitas komersial. Ia ingin menginspirasi generasi muda agar tidak melupakan sejarah kebesaran Islam di Pasai melalui media seni.
“..Bukan lagu-lagu komersil, tapi ada tanggung jawab sejarah yang meski diteruskan, terutama peradaban di bidang musik dan sastra lokal (etnik/Aceh),” tuturnya.
Sebagai kelompok seni yang aktif menghidupkan panggung festival, komunitas, hingga kampus, Bink-Vho terus berupaya membuktikan bahwa budaya lokal mampu beradaptasi dan berkembang pada era modern. Karakter suara mereka merepresentasikan Aceh yang berbicara menggunakan bahasa baru, membidik misi pelestarian agar warisan lokal tidak punah tergerus zaman.
Dedikasi tersebut bermuara pada filosofi utama yang selalu mereka pegang teguh dalam setiap pementasan:
“Kami tidak hanya bermain musik. Kami membawa cerita, tanah, dan jiwa Aceh ke dalam setiap nada.” []





















