Teluk Sukun — Al-kisah, tatkala malam melabuhkan tirainya di atas hamparan tanah Lapangan Landing, Lhoksukon, angin berembus membawa aroma sejarah yang ranum.
Di panggung megah Haul 800 Tahun Kesultanan Samudra Pasai—perhelatan akbar untuk memperingati delapan abad berdirinya marwah Islam di Asia Tenggara—sebuah pemandangan ganjil tersaji di hadapan mata.
Syahdan, lampu-lampu panggung berpijar gemerlap memantulkan ornamen kejayaan masa lalu. Namun, kontras dengan kemegahannya, pemandangan di bawah panggung sungguh lengang.
Kursi-kursi kosong berderet bak barisan prajurit yang kehilangan tuannya, sementara riuh rendah manusia yang dinanti-nanti tak kunjung datang memenuhi pelataran depan kantor Bupati Aceh Utara. Sepi telah merajai malam itu.
Kendati demikian, tiada gundah di wajah para qari Aceh berkaliber internasional yang namanya masyhur melintasi samudera.
Haflah Al-Qur’an tadi malam menghadirkan Teuku Syeh Zubaili, Tengku Drs. H. Muslim Ali, Tengku Muhammad Yanis, S.Pd.I., Tengku Bardi Ramli, Tengku H. Ibrahim Minsyari, S.Sos., dan Tengku Muhammad Faroq.
Berbekal keyakinan teguh bahwa melantunkan kalam Ilahi adalah amanah langit yang wajib ditunaikan ke bumi, langkah mereka tetap tegap menaiki mimbar.
“Bismillahir rahmanir rahim…”
Begitu bait-bait suci itu meluncur dari celah bibir sang qari dengan irama Bayati yang syahdu, bergetarlah keheningan malam di tanah Pasee. Angin seketika berhenti berdesir dan pepohonan menunduk takzim.
Suara pelantun ayat suci Al-Qur’an melambung tinggi menembus pekat awan, bergema di antara pilar sejarah seolah ia sedang berdiri di hadapan ribuan khalayak atau para sultan Pasai terdahulu.
Beberapa gelintir jiwa yang hadir di pelataran terpaku khusyuk, sementara air mata menetes tanpa diundang membasahi pipi para saksi malam itu.
Tiada lagi peduli pada sepinya penonton, sebab Lapangan Landing malam Jumat itu diyakini dipenuhi para malaikat yang membentangkan sayap cahaya demi menaungi sang pembaca firman Tuhan.
Hingga ayat terakhir ditutup dengan kalimat tashdiq, gema suci itu masih mencengkeram dada. Sang qari turun dari mimbar dengan ketenangan seorang pemenang, membuktikan bahwa kemuliaan syiar tak diukur dari tepuk tangan manusia, melainkan dari keikhlasan yang menggetarkan arsy-Nya.
Samudera Pasai boleh saja sunyi, tetapi jiwanya tetap hidup dan menyala lewat bait-bait suci yang abadi. []




















