INFOACEHUTARA.com — Buku ACEH: Bangkit daripada Luka sukses mencetak prestasi gemilang dengan menjadi salah satu buku best seller (terlaris) dalam ajang Pesta Buku Antarabangsa Kuala Lumpur (PBAKL) 2026. Hingga menjelang penutupan pameran pada Minggu (7/6/2026) di World Trade Centre Kuala Lumpur (WTCKL), Malaysia, para pengunjung telah membeli lebih dari 1.000 eksemplar buku tersebut.
Pencapaian ini menjadi sorotan utama di stan Galeri Ilmu Media Group selaku penerbit. Antusiasme tinggi dari publik jurnalis dan pembaca Malaysia ini membuktikan bahwa tema sejarah, kemanusiaan, dan semangat kebangkitan Aceh memiliki daya tarik yang luar biasa di tingkat internasional.
Buku ACEH: Bangkit daripada Luka merupakan karya kolaboratif dari 10 penulis yang tergabung dalam Relawan Rangers. Tim penulis ini terdiri atas empat perwakilan Center for Information of Sumatra Pasai Heritage (CISAH) Aceh Utara dan enam perwakilan Halaqah Mukhlisin Tour and Travel Malaysia. Salah satu penulisnya adalah Mawardi Ismail al-Asyi, yang juga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) CISAH.
Para penulis meramu buku ini berdasarkan pengalaman langsung saat menjalankan misi kemanusiaan pasca-banjir bandang di berbagai wilayah Aceh, seperti Langkahan, Sawang, dan Aceh Tamiang. Tim relawan kedua negara menyalurkan bantuan langsung, mendengarkan kisah pilu para korban, dan menyaksikan sendiri bagaimana masyarakat Aceh memiliki ketangguhan luar biasa untuk kembali menata kehidupan.
Selain merekam perjuangan masyarakat pasca-bencana, buku ini secara mendalam mengaitkan peristiwa tersebut dengan sejarah panjang Aceh sebagai pusat peradaban Islam di Nusantara. Penulis menjelaskan bagaimana sungai-sungai di Aceh memegang peranan vital dalam membentuk jalur transportasi, perdagangan, dan peradaban sejak masa Kesultanan Samudra Pasai (Sumatra Pasai).
Momentum PBAKL 2026 ini juga menjadi panggung bagi CISAH untuk mengedukasi masyarakat global mengenai kegemilangan masa lalu Aceh. Mawardi Ismail al-Asyi mengingatkan kembali catatan perjalanan musafir legendaris dunia, Ibnu Batutah, yang menginjakkan kaki di Sumatra Pasai pada tahun 1345 M dan bertemu Sultan Al Malik Adz-Zhahir. Catatan tersebut membuktikan bahwa Aceh sudah sejak lama menjadi pusat keilmuan Islam terkemuka di Asia Tenggara.
Memperkuat Jaringan Kerja Sama Internasional
Kehadiran buku ini di PBAKL 2026 yang mengusung tema “Ihya’ Turats: Menghidupkan Warisan, Menerangi Zaman” sukses membuka peluang kolaborasi baru. CISAH memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat hubungan bilateral antara Aceh dan Malaysia melalui serangkaian pertemuan strategis.
Mawardi mengadakan diskusi dengan Encik Muhammad Suhail, Penasihat Aktif Grup Penjejak Tamadun Dunia (GPTD) Malaysia, guna membahas rencana penelitian dan pelestarian warisan peradaban Islam di Aceh Utara pada masa depan. Selain itu, CISAH juga menerima kunjungan akademik dari perwakilan Universiti Tun Abdul Razak (UNIRAZAK) Malaysia di stan mereka untuk menjajaki kerja sama ilmiah mengenai sejarah Melayu-Nusantara.
Melalui keberhasilan buku ini, CISAH berharap hubungan persaudaraan, akademik, dan kebudayaan antara masyarakat Aceh dan Malaysia yang telah terjalin selama berabad-abad dapat terus terpelihara dan menghasilkan program-program kolaboratif yang lebih luas. []





















